Selasa, 10 November 2015

Program Belajar Bekerja Terpadu (Co-op)


A.    LATAR BELAKANG
Kemampuan untuk bersaing dalam perdagangan jasa maupun barang dipandang merupakan salah satu hal penting agar Indonesia tetap kuat sebagai bangsa yang disegani di dunia. Oleh sebab itulah peningkatan daya saing bangsa (nation competitiveness) menjadi salah satu isu utama dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memandang pentingnya pelibatan atau kerjasama dengan lembaga lain dalam upaya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkarakter unggul agar mampu berkontribusi terhadap daya saing bangsa. Melalui kerjasama berbagai pihak diharapkan setiap potensi yang dimiliki dapat disinergikan guna mendorong peningkatan kualitas lembaga pendidikan tinggi, tidak saja dalam bidang pendidikan tetapi juga dalam bidang sosial dan ekonomi.
Proses pembelajaran yang dilaksanakan di perguruan tinggi pada umumnya lebih menitik beratkan kepada pengembangan intelektual atau kemampuan akademis serta penalaran dan kurang memberikan bekal kemampuan teknis / operasional untuk memasuki dunia kerja. Di sisi lain dunia usaha dan industri (DUDI) menghendaki tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis serta pengalaman kerja yang sering menjadi kendala bagi mahasiswa untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus.
Bertolak dari pencanangan program Co-operative Academic Education oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada konferensi internasional “The First Indonesian National Executive Conference on Co-operative Education” di Jakarta pada tahun 1994, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan Bappenas dan kemudian dengan Dewan Pengembangan Program Kemitraaan (DPPK) telah merintis dan mengembangkan Program Co-operative Academic Education (Co-op) atau Program Belajar Bekerja Terpadu (PBBT) yang dilaksanakan dan dikembangkan dengan tujuan memperkenalkan dunia usaha atau dunia kerja lebih dini kepada mahasiswa.

Program ini merupakan program yang mengintegrasikan berbagai latar belakang ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dengan pengalaman nyata dunia usaha. Di dunia internasional program seperti ini dikenal dengan nama “work-integrated learning” atau “work based learning”. Sedikit berbeda dengan program “link and match” yang lebih dulu dicanangkan pemerintah yang lebih berorientasi pada “subject-based” atau “curriculum and practice-based learning”, Co-op lebih mementingkan “work place experience” atau pengalaman dan berkegiatan dalam dunia kerja nyata. Untuk pekerjaan yang dilakukannya, mahasiswa peserta mendapat kompensasi keuangan dari perusahaan atau tempat bekerja. Selama mengikuti kegiatan, mahasiswa peserta program akan di evaluasi oleh petugas yang ditunjuk oleh perusahaan dan atau oleh mentor yang ditunjuk oleh perguruan tinggi dan setelah selesai akan mendapatkan sertifikat.

Program Co-op sebagai program belajar bekerja terpadu, menetapkan indikator umum keberhasilannya yaitu bilamana setiap pihak yang terlibat (mahasiswa, perguruan tinggi, dunia usaha/UKM) mendapat manfaat dari program tersebut. Oleh sebab itulah program ini diunggulkan sebagai salah satu program bersama antara perguruan tinggi dengan DUDI untuk menghasilkan sumber daya manusia atau lulusan yang berdaya saing.


B.    TUJUAN PROGRAM
  1.  Menghasilkan calon wirausahawan muda yang memiliki gagasan baru dalam menciptakan lapangan kerja.
  2.  Meningkatkan mutu dan relevansi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha.
  3.  Meningkatkan kualitas usaha, kecil dan menengah dalam pengelolaan maupun pengembangan usaha.
  4.  Meningkatkan jaringan kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia usaha/industri.
  5. Meningkatkan kepercayaan dunia usaha/industri terhadap perguruan tinggi
C.    SASARAN
  1. Mendidik mahasiswa agar memiliki jiwa wirausaha, ulet dan kreatif, bertanggung jawab dan mampu bekerjasama.
  2. Meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi khususnya kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.
  3. Menciptakan hubungan kerja sama yang baik antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan UKM.
  4. Mendorong dan membantu UKM agar lebih mandiri, sehat dan berdaya.
D.    DEFINISI DAN RUANG LINGKUP
Program Co-op atau Belajar Bekerja Terpadu di UKM adalah kegiatan pendidikan bagi mahasiswa S1 yang telah menyelesaikan sekurang-kurangnya 110 SKS, bekerja penuh waktu sekurang-kurangnya 4 bulan di UKM, memiliki hak dan kewajiban sebagaimana karyawan untuk mendapatkan pengalaman berwirausaha.
E.    TAHAPAN PROGRAM
Sesuai dengan karakteristiknya pelaksanaan program Co-op di UKM dalam beberapa hal berbeda dengan Co-op di industri. Bila pelaksanaan di industri diawali dengan MoU antara pimpinan perguruan tiggi dengan pimpinan perusahaan untuk jangka waktu tertentu, namun untuk program Co-op di UKM tidak harus melalui MoU, tetapi dapat dilakukan secara insidental berupa surat perjanjian kesediaan UKM untuk melaksanakan program Co-op. Cara ini dipilih agar lebih memudahkan mengingat umumnya UKM belum memiliki struktur organisasi yang jelas seperti di perusahaan besar.
Selain itu pelaksanaan program Co-op di UKM melibatkan fihak ketiga sebagai penyandang dana atau sponsor yang akan membantu dalam hal pendanaan khususnya biaya untuk kompensasi bagi mahasiswa dan biaya pelaksanaan pembekalan. Hal ini dilakukan mengingat bahwa UKM memiliki kemampuan yang terbatas dalam segi pendanaan. Namun demikian, sudah terbukti bahwa UKM merupakan unit usaha yang lebih tahan terhadap goncangan resesi ekonomi dan memiliki andil lebih besar dalam penyerapan tenaga kerja. Oleh sebab itu salah satu misi dari program Co-op UKM selain untuk mendidik mahasiswa agar berjiwa wirausaha, adalah agar dapat membantu UKM untuk tumbuh menjadi unit usaha yang lebih mandiri dan menjadi lebih besar.
Jenis usaha UKM menyebar sampai ke pelosok pedesaan, sehingga pembinaan dan perkembangan UKM akan menjadikan program pemerataan ekonomi, perluasan pembukaan lapangan kerja, bahkan bukan tidak mungkin akan meningkatkan pendapatan asli daerah. Tahap-tahap pelaksanaan program adalah sebagai berikut.
1.     Tahap Persiapan
Berbeda dengan program Co-op di Industri, perekrutan di mulai setelah ada surat permintaan Co-op oleh suatu industri. Program Co-op UKM diawali dengan pencarian dana untuk pembiayaan yang dapat diawali dengan membuat usulan atau proposal ke lembaga sponsor baik dari instansi pemerintah seperti Ditjen Dikti, Pemda atau melalui lembaga swasta seperti perusahaan besar.
Khusus untuk pendanaan dari Dikti, hanya diperuntukkan bagi perguruan tinggi yang baru melaksanakan program Co-op, dan hanya diberikan maksimal selama tiga tahun. Selama masa tiga tahun tersebut perguruan tinggi diharapkan sudah mendapatkan pilihan sumber pendanaan selanjutnya. Sangat diharapkan juga bahwa UKM yang telah dibina melalui program Co-op dengan sponsor dari Dikti akan dapat menerima mahasiswa Co-op secara mandiri yang disebut dengan program Co-op mandiri.
2.     Tahap Perekrutan
Setelah ada lembaga sponsor yang akan membantu pendanaan untuk pelaksanaan Co-op di UKM, tahap berikutnya adalah perekrutan yang diawali dengan pemberian informasi dan indentifikasi terhadap kebutuhan UKM tentang program Co­op yang dilakukan dengan cara mengundang para pelaku UKM ke kampus. Pada pertemuan fihak perguruan tinggi atau pengelola program Co-op menyampaikan berbagai hal tentang program Co-op dan dilanjutkan dengan tanya jawab atau diskusi.
Berikutnya UKM diberikan formulir kesediaan menjadi penerima mahasiswa yang berisikan pernyataan kesediaan, jumlah mahasiswa yang dibutuhkan serta permasalahan UKM dan spesifikasi mahasiswa serta pertanyaan apakah UKM akan ikut dalam proes seleksi mahasiswa atau diserahkan kepada perguruan tinggi. Formulir yang telah diisi dapat dikembalikan paling lambat 1 (satu) minggu setelah pertemuan. Pemberian tenggang waktu ini diperlukan karena biasanya ada UKM yang belum mengetahui atau belum dapat menjelaskan secara rinci masalah yang dihadapinya.
Setelah didapatkan informasi tentang jumlah mahasiswa yang dibutuhkan, spesifikasi dan masalah yang dihadapi oleh UKM, maka tahap selanjutnya adalah mengumumkan secara terbuka tentang adanya penerimaan peserta Co-op kepada seluruh fakultas yang relevan dengan permasalahan yang ada. Seperti layaknya lowongan kerja yang diumumkan di papan pengumuman yang terdapat di fakultas dengan batasan kriteria serta IPK minimum yang diperbolehkan. Berdasarkan pengumuman ini para mahasiswa mendaftarkan diri sesuai dengan sistem yang berlaku (melalui fakultas, lembaga pengembangan UKM, atau langsung ke Rektor sesuai dengan pengaturan di perguruan tinggi) dengan ketentuan dan batas waktu yang telah ditentukan.

3.      Tahap Seleksi
Tahap seleksi dimulai dengan seleksi administrasi seperti IPK, jumlah SKS yang telah ditempuh, kegiatan ko-ekstra kurikuler serta jadwal perkuliahan. Seleksi dapat dilakukan oleh tim perguruan tinggi dan atau UKM, tergantung permintaan UKM atau kesepakatan. Materi seleksi dapat berupa tes tertulis dan wawancara. Seleksi tahap akhir dapat dilakukan oleh pihak UKM yang dilakukan dalam pertemuan sebelum penyerahan mahasiswa ke UKM. Pihak perguruan tinggi sedapat mungkin mengakomodasi dan atau memfasilitasi kebutuhan UKM akan kriteria atau kecocokan peserta mahasiswa.
Seleksi mencakup “hard skills’" (kemampuan akademis) dan “soft skills"" (kepribadian). Hard skills dapat diketahui dari IPK atau penelaahan transkip akademis, sedangkan soft skills dari wawancara, tes psikologi dan atau penilaian daftar riwayat hidup (DRH). Faktor lain yang harus menjadi pertimbangan adalah keahlian khusus yang dimiliki mahasiswa, pengalaman kerja bila ada dan kesungguhan atau motivasi mahasiswa serta semangatnya untuk mengikuti program.
Mahasiswa yang akan mengikuti Co-op di UKM diberikan tambahan pengetahuan khususnya tentang kewirausahaan, informasi tentang UKM, manajemen UKM, pengembangan kepribadian dan pengembangan potensi diri. Pada saat pembekalan mahasiswa sebaiknya juga diberi penjelasan tentang keunggulan dan peluang karier bila berwirausaha. Hal ini diperlukan karena mahasiswa berasal dari latar belakang yang berbeda, atau mungkin ada yang belum memiliki bekal khususnya tentang manajemen/pengelolaan usaha. Selain itu salah satu tujuan Co-op di UKM adalah untuk mendidik mahasiswa agar tertarik berwirausaha, oleh sebab itu sebelum melaksanakan Co-op, atau sebelum terjun langsung ke UKM mahasiswa telah mengetahui manfaat serta tantangan bagi seseorang yang berwirausaha.
Pembekalan dapat dilakukan oleh pihak perguruan tinggi atau oleh lembaga lain yang menjadi sponsor. Narasumber sebaiknya dari pakar yang memang menguasai bidang kewirausahaan, sebab biasanya akan terjadi dialog yang menarik antara mahasiswa yang baru mendapatkan materi kewirausahaan dengan para pakar tersebut. Pakar diharapkan juga dapat meningkatkan motivasi bagi mahasiswa agar lebih bersemangat dalam berwirausaha.
5.      Tahap Bekerja
Co-op di UKM merupakan kegiatan bekerja yang dilakukan mahasiswa dalam rangka pengembangan UKM, yang terkadang tidak memiliki kantor tetap, belum ada alur kerja yang jelas serta belum ada manajemen yang baik pula. Oleh sebab itu, mahasiswa dituntut lebih aktif dan lebih ulet karena mungkin semua pekerjaan harus dilakukan bahkan menyapu sampai ke produksi dan pemasaran. Namun demikian mahasiswa harus tetap berperan signifikan terutama memberikan saran dan melakukan inovasi untuk perbaikan kinerja UKM. Dengan menjalani Co-op secara sungguh- sungguh dan dapat menghayati pekerjaannya, maka setelah melakukan Co-op di UKM mahasiswa akan memiliki kemampuan berwirausaha yang baik karena pengalaman bekerja tersebut dikombinasikan dengan keintelektualannya.
Karena program ini mengharuskan mahasiswa bekerja penuh waktu, maka mahasiswa harus mengajukan cuti semester atau memanfaatkan libur antarsemester apabila memungkinkan. Mahasiswa diperlakukan sebagaimana layaknya karyawan yang bekerja dalam 7-8 jam perhari atau 36 jam perminggu. Mahasiswa diberi hak untuk memperoleh kompensasi keuangan disamping itu juga dapat diberikan fasilitas lainnya seperti asuransi, pemondokan, dan transport sesuai kesepakatan dan kemampuan perusahaan.
Besarnya kompensasi keuangan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dengan batas minimum nilai UMR. Namun untuk Co-op di UKM, karena keterbatasan yang dimiliki maka kompensasi keuangan dapat dibiayai 75% oleh fihak ketiga atau sebagian oleh pihak lembaga sponsor yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan UKM. Sedangkan 25% sisanya tetap harus dibayar oleh UKM agar terbangun rasa tanggungjawab yang lebih tinggi terhadap pelaksanaan program. Apabila tidak sanggup membayar uang kompensasi 25% secara tunai, namun menurut penilaian UKM tersebut dengan sungguh-sungguh ingin ikut program Co-op untuk meningkatkan produktivitasnya, maka dana 25% dapat berupa fasilitas seperti makan siang, pemondokan dan lain sebagainya. Diharapkan setelah menerima mahasiswa Co­op maksimal tiga kali (tiga tahun), UKM akan meningkat kinerja dan atau produktivitasnya.
Indikatornya utamanya adalah setelah program Co-op berjalan tiga tahun, UKM telah memiliki omset penjualan yang lebih besar, jaringan pemasaran lebih luas dan kualitas produk atau jasa yang lebih baik serta mampu membayar kompensasi kepada mahasiswa peserta program Co-op secara penuh, tanpa mendapat bantuan dari pihak lain.
Apabila mahasiswa berhasil baik dalam melaksanakan Co-op maka perusahaan memberikan keterangan bekerja yang antara lain berisi identitas mahasiswa, keterangan tentang nama perusahaan, unit tempat kerja, dan penilaian tentang kinerjanya. Penilaian dilakukan secara terus menerus selama mahasiswa menjalani Co-op. meskipun proses awalnya diberi nilai berupa angka atau huruf pada akhirnya penilaian dikonversi secara kualitatif. Surat keterangan bekerja dikeluarkan oleh perusahaan dan ditandatangani oleh pimpinan perusahaan. Kadang kala UKM tidak dapat/mampu memberikan keterangan bekerja, oleh sebab itu pihak perguruan tinggi dapat membuatkan sertifikat sedangkan UKM hanya mengisi form penilaian saja.
7.     Tahap Pengembalian
Mahasiswa peserta Co-op akan atau dapat dikembalikan ke perguruan tinggi apabila
a.     Telah menyelesaikan seluruh masa Co-op sesuai perjanjian.
b.     Mahasiswa kinerjanya tidak baik dan atau melanggar ketentuan yang telah disepakati.
c.     UKM tidak memperlakukan mahasiswa dengan baik sesuai perjanjian.
d.     Apabila terjadi kasus sebagaimana butir b dan atau c, perguruan tinggi dapat mengganti mahasiswa atau memindahkan ke UKM yang baru.

1.     Manfaat bagi Perusahaan
Bagi perusahaan/UKM yang terlibat program Co-op akan dapat
a.     Menjaring karyawan potensial
b.     Memperoleh tenaga kerja jangka pendek yang berkualitas
c.      Memperoleh ide-ide baru dan segar
d.     Bukti kepedulian instansi atau perusahaan pada pengembangan SDM daerah
e.      Menjalin hubungan baik dengan universitas
f.      Memperoleh tenaga kerja jangka pendek yang berkualitas
g.     Mempromosikan citra perusahaan
Bagi mahasiswa yang mengikuti program Co-op akan dapat
a.     Memperoleh pengalaman kerja
b.     Menerapkan teori pada masalah nyata
c.      Mempelajari sikap atau prilaku kerja
d.     Mempelajari keterampilan teknis bekerja
e.      Meningkatkan keterampilan komunikasi
f.      Meningkatkan keterampilan membangun relasi dan kerjasama
g.     Meningkatkan motivasi belajar.
Perguruan tinggi yang menjalankan program Co-op akan dapat
a.     Meningkatkan efisiensi eksternal
b.     Meningkatkan hubungan dengan perusahaan dan atau industri
c.      Membuka kesempatan interaksi dosen dengan industri
d.     Mempromosikan sumber daya
e.      Menawarkan umpan balik untuk perbaikan kurikulum.
1.     Adanya peningkatan sistem tata kelola, produksi, pemasaran, aset dan atau keuntungan pada UKM.
2.     Adanya keinginan/rencana UKM untuk melaksanakan program Co-op secara swadaya.
3.     Adanya keinginan/rencana UKM untuk meningkatkan partisipasinya dalam kompensasi keuangan terhadap mahasiswa.
4.     Adanya keinginan/rencana UKM untuk tetap menggunakan tenaga mahasiswa setelah waktu pelaksanaan program Co-op selesai.


Panduan Co-op 2015

Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi dan Beasiswa Afirmasi

KIP Kuliah

Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi

PENGANTAR
Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah bagi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang memiliki potensi akademik baik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Bidikmisi bertujuan untuk meningkatkan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi; meningkatkan prestasi mahasiswa; menjamin keberlangsungan studi mahasiswa dengan tepat waktu; dan melahirkan lulusan yang mandiri, produktif serta memiliki kepedulian sosial sehingga mampu berperan dalam upaya pemutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

PERSYARATAN PENERIMA BIDIKMISI
Penerima Bidikmisi adalah:

  • siswa SMA atau sederajat yang akan lulus pada tahun berjalan atau lulus 1 (satu) tahun sebelumnya; 
  • memiliki potensi akademik baik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi yang didukung bukti dokumen yang sah dan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi. 
  • Untuk perguruan tinggi swasta (PTS) program studi (Prodi) minimal harus memiliki Akreditasi B atau Baik Sekali.
  • memiliki keterbatasan ekonomi yang dibuktikan dengan kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau pendapatan kotor gabungan orang tua/wali sebesar Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah) atau pendapatan kotor gabungan orang tua/wali dibagi jumlah anggota keluarga maksimal Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). 
  • Calon penerima bidikmisi wajib terdaftar pada sistem Bidikmisi dengan memasukkan NPSN dan NISN yang valid.


FASILITAS BAGI PENERIMA BIDIKMISI
Fasilitas yang diberikan adalah:

  • Penggantian biaya kedatangan pertama untuk pendaftar Bidikmisi yang berasal dari luar kota atau sesuai ketentuan perguruan tinggi. 
  • Pembebasan biaya pendidikan yang dibayarkan ke perguruan tinggi. 
  • Subsidi biaya hidup sekurang-kurangnya sebesar Rp. 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah) per bulan.


JANGKA WAKTU PEMBERIAN BIDIKMISI
  • Program Diploma I maksimal 2 (dua) semester
  • Program Diploma II maksimal 4 (empat) semester 
  • Program Diploma III maksimal 6 (enam) semester
  • Program Diploma IV / Sarjana maksimal 8 (delapan) semester.
  • Program Profesi: Dokter maksimal 4 (empat) semester 
  • Dokter Gigi maksimal 4 (empat) semester 
  • Dokter Hewan maksimal 4 (empat) semester 
  • Ners maksimal 2 (dua) semester 
  • Apoteker maksimal 2 (dua) semester 
  • Guru maksimal 2 (dua) semester.

Informasi lengkap/laman Bidikmisi disini
Laporan Bidikmisi disini


Beasiswa Afirmasi Papua

Latar belakang

Pendidikan adalah hak asasi manusia, dan ketika akses pendidikan telah dibuka seluas-luasnya, maka seluruh putra bangsa harus dapat memanfaatkan akses tersebut sebaik-baiknya. Namun dalam beberapa keadaan khusus akses pendidikan, terutama pendidikan tinggi tidak selamanya dapat tersedia. Akses yang terbatas tersebut dapat disebabkan karena keterbatasan sarana, atau karena keadaan khusus yang menyebabkan akses tersebut menjadi sangat terbatas. Keadaan khusus tersebut dapat pula disebabkan oleh keadaan berupa kondisi geografi, pertumbuhan ekonomi, bencana alam atau kondisi sosial budaya dan latar belakang sejarah khusus yang dialami oleh sekelompok masyarkat.

Provinsi Papua dan Papua Barat adalah bagian wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, yang hingga saat ini belum memperoleh akses pendidikan yang baik, terutama pendidikan tinggi. Oleh karenanya ketertinggalan diberbagai aspek kehidupan, dan tingkat kesejahteraan yang rendah dan seringkali menyisakan masalah besar. Kondisi infra struktur pendidikan yang serba terbatas di pedalaman menyebabkan pendidikan semakin tidak merata dan semakin hari melahirkan kebodohan dan kemiskinan yang menyebabkan anak-anak orang asli Papua tersingkir dari kancah persaingan dunia yang berkembang pesat . Tidak sulit menemukan gedung sekolah yang reyot, hanya beberapa orang guru, buku pelajaran yang sudah usang, sejumlah kecil murid yang bersepatu, seragam yang serba kumal dan lusuh, murid yang memiliki masalah kesehatan dan kurang gizi.

Penyelenggaran pendidikan harus membantu anak-anak orang asli Papua untuk membuka akses mereka terhadap pengetahuan. Hal ini akan membantu mereka untuk secara alamiah bertumbuh dan berkembang menyejahterakan dirinya diberbagai aspek kehidupan. Pendidikan akan mengangkat derajat mereka dan membantu untuk lebih mengenal dan menyerap nilai-niali universal dan menghindari berfikir sempit dan fragmatis.

Sudah cukup banyak upaya yang telah dilakukan untuk membuka kesempatan akses seluas-luasnya bagi seluruh putra-putri Asli Papua. Namun harus diakui bahwa di beberapa wilayah masih perlu berbagai upaya keberpihakan dan percepatan agar kesenjangan pendidikan diseluruh tanah air dapat semakin dipersempit. Khusus untuk akses pada pendidikan tinggi telah dilakukan upaya oleh perguruan tinggi negeri. Upaya tersebut selama ini, belum dirasakan sebagai suatu program yang terintegrasi secara nasional.

Untuk itu, upaya percepatan dan pemerataan dibidang pendidikan di Provinsi Papua dan Papua Barat, khususnya pendidikan tinggi dirancang dalam suatu program khusus berupa program keberpihakan atau Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) bagi Putra-Putri Asli Papua. Program ADik Papua secara nasional dirancang dalam beberapa tahapan, dimulai dari tahapan pendataan dan pendaftaran, seleksi/ujian, pembekalan, mobilisasi, registrasi, pembiayaan, pembinaan dan pembimbingan belajar agar mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tingginya dengan tuntas dan hasil yang baik.

Tujuan dan Sasaran Program

Tujuan 
  1. Memberikan kesempatan kepada putra-putri Asli Papua lulusan SMA sederajat yang berprestasi akademik baik, untuk memperoleh pendidikan tinggi di PTN terbaik;
  2. Mendapatkan calon mahasiswa baru putra-putri Asli Papua melalui seleksi nasional dan seleksi khusus bagi siswa berprestasi akademik di SMA sederajat;
  3. Menyiapkan sumber daya manusia putra-putri asli Papua yang berkualitas untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional,
Sasaran

Sasaran program adalah Putra-Putri Asli Papua lulusan pendidikan SMA sederajat serta memiliki potensi akademik baik.

Sistem Seleksi/Penerimaan

Program afirmasi pendidikan tinggi bagi Putra-Putri Asli Papua dimulai dengan tahapan seleksi dengan memberi kepercayaan kepada sekolah sebagai bagian dari proses awal seleksi. Kepala Sekolah dan para guru yang telah mendidik siswanya selama 3 tahun diharapkan berperan aktif dalam memberikan rekomendasi secara jujur dan bertanggung jawab terhadap siswa yang memunyai prediksi keberhasilan yang baik di PTN. Kepercayaan kepada sekolah ini dapat dibingkai dengan sistem “hadiah dan hukuman” bagi sekolah yang mengirimkan siswa terbaik dan berhasil pada PTN tujuan akan memerolah tambahan kuota, sebaliknya bagi sekolah yang gagal dan terindikasi berbuat curang akan mendapatkan hukuman.

Dalam proses seleksi, selain melibatkan perguruan tinggi juga diperlukan keterlibatan pemerintah daerah dengan pertimbangan bahwa siswa yang terpilih adalah putra-putri orang asli Papua (OAP) dan layak untuk mendapatkan rekomendasi. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan arahan program studi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan daerah. Oleh karena itu kegiatan pengusulan dan pendaftaran siswa oleh sekolah dilakukan dibawah koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Panitia pelaksana atau kelompok kerja (pokja) antar universitas melakukan kordinasi dan melakukan proses lanjutan untuk seleksi mahasiswa terbaik berdasarkan kriteria umum yang telah disepakati dan menjadi kewenangan masing masing Rektor PTN yang terkait. Selanjutnya penerimaan mahasiswa afirmasi oleh PTN dilakukan dalam bentuk penugasan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi kepada PTN pelaksana.

Program Pra Universitas (PPU) atau Program Matrikulasi (PM) jika perlu dapat dilakukan karena berfungsi sebagai jembatan antara sistem belajar di Sekolah Menengah dan universitas, memberikan periode adaptasi yang memadai bagi mahasiswa sehingga tidak menimbulkan gegar budaya (cultural shock). Bentuk seperti PPU atau PM dengan demikian dapat dipertimbangkan sebagai pilihan untuk mendukung penyelesaian studi mahasiswa afirmasi. Bentuk lain yang dapat dipilih ialah memerpanjang masa persiapan, misalnya memberikan STATUS KHUSUS. Dalam status khusus mahasiswa dibimbing agar dapat melewati IPK ≥ 2.00 agar dapat melanjutkan ke semester berikutnya.

Setelah mahasiswa registrasi pada PTN hendaknya ada proses pembinaan dan pembimbingan terutama berhubungan dengan motivasi, kedisiplinan dan juga “social hour activity”, misalnya dengan melibatkan organisasi mahasiswa daerah atau yang sejenisnya. Masa inkubasi dalam status khusus dibuat dengan memertimbangkan kualitas calon serta kemudahan program tersebut dilaksanakan pada masing-masing universitas. Selanjutnya upaya untuk menekan angka kegagalan dan meningkatkan keberhasilan dapat dilakukan secara khusus baik dengan melibatkan dosen, asisten dosen, mahasiswa senior maupun tutor sebaya.
Akan sangat ideal jika PTN dapat menyediakan asrama yang memungkinkan bergabung dengan mahasiswa lain sehingga proses pembimbingan, sosialisasi dan akulturasi berjalan dengan baik.

Sekolah yang berhak mengikuti Program ADik Papua adalah sebagai berikut;
  1. SMA sederajat, negeri maupun swasta yang terdaftar di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. 
  2. SMA sederajat negeri maupun swasta diluar Papua dan Papua Barat yang memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 
Pendaftaran dilakukan secara langsung melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dengan membawa kelengkapan persyaratan yang telah ditetapkan, dan dikoleksi oleh PTN kordinator untuk selanjutnya diseleksi. Seleksi ADik Papua melalui jalur SNMPTN mengikuti jadwal seleksi SNMPTN. Lebih jelas dapat dilihat pada bagan berikut.

Sistem Seleksi Beasiswa Afirmasi

Pembiayaan

  1. Bantuan dana pendidikan Program ADik Papua di PTN pelaksana diberikan oleh Dikti sebesar Rp. 8.400.000,- per mahasiswa per semester meliputi untuk biaya penyelenggaraan pendidikan maksimal sebesar Rp2.400.000,- per semester ditransfer langsung ke rekening perguruan tinggi.
  2. Bantuan biaya pendidikan mahasiswa Program ADik Papua diberikan oleh Dikti sebesar Rp6.000.000,- per semester ditransfer langsung ke rekening masing-masing mahasiswa.
  3. Bantuan biaya penyelenggaraan yang diterima perguruan tinggi (point a), sebanyak-banyaknya Rp2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) per semester per mahasiswa bukan bagian dari Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan merupakan bagian dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Oleh karena itu penggunaannya harus mengacu pada ketentuan penggunaan dana PNBP.
  4. Biaya “re-settlement” setelah registrasi yang setara dengan biaya hidup selama 2 (dua bulan) ditanggung oleh Dikti, melalui transfer rekening PTN pelaksana.
  5. Biaya asuransi kesehatan, kecelakaan dan kematian selama mengikuti program ADik Papua menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kota asal mahasiswa masing-masing
  6. Biaya perjalanan calon mahasiswa dari daerah asal ke Provinsi menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, dan biaya perjalanan dari kota Provinsi ke PTN pelaksana menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi, dengan mekanisme:
  • Biaya transport untuk mahasiswa yang berasal dari luar Kabupaten/Kota/Provinsi untuk 2 (dua) kali: dari tempat asal menuju perguruan tinggi dan dari perguruan tinggi ke tempat asal setelah lulus.
  • Biaya hidup sementara bagi calon mahasiswa yang berasal dari luar Kota yang besarnya maksimum setara dengan bantuan biaya hidup 1 (satu) bulan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.

Perguruan Tinggi Penyelenggara

Perguruan Tinggi Penyelenggara Beasiswa Afirmasi Papua dan 3T
  1. Institut Pertanian Bogor 
  2. Institut Teknologi Bandung 
  3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  4. Universitas Padjadjaran 
  5. Universitas Airlangga 
  6. Universitas Brawijaya 
  7. Universitas Diponegoro 
  8. Universitas Gajah Mada 
  9. Universitas Indonesia 
  10. Universitas Jember 
  11. Universitas Negeri Jakarta 
  12. Universitas Negeri Malang 
  13. Universitas Negeri Surabaya 
  14. Universitas Negeri Yogyakarta \
  15. Universitas NegeriSemarang 
  16. Universitas Pendidikan Ganesha 
  17. Universitas Pendidikan Indonesia 
  18. Universitas Sebelas Maret 
  19. Universitas Trunojoyo 
  20. Universitas Udayana 
Perguruan Tinggi Penyelenggara Beasiswa Afirmasi Papua
  1. Universitas Andalas 
  2. Universitas Bengkulu 
  3. Universitas Sriwijaya 
  4. Universitas Sumatera Utara 
  5. Universitas Syiah Kuala 
  6. Universitas Tanjungpura 
  7. Universitas Haluoleo 
  8. Universitas Hasanuddin 
  9. Universitas Khaerun 
  10. Universitas Lambung Mangkurat 
  11. Universitas Lampung 
  12. Universitas Mulawarman
  13. Universitas Negeri Makassar 
  14. Universitas Negeri Medan 
  15. Universitas Nusa Cendana 
  16. Universitas Palangkaraya 
  17. Universitas Sam Ratulangi 
  18. Universitas Pattimura 
  19. Universitas Universitas Mataram 
  20. Universitas Malikussaleh 
  21. Universitas Riau 
  22. Universitas Jambi 
  23. Universitas Negeri Padang 
  24. Universitas Tadulako 
  25. Universitas Negeri Gorontalo 
  26. Universitas Tirtayasa Banten 
  27. Universitas Jenderal Soedirman 
  28. Universitas Negeri Manado 

Sosialisasi

Sosialisasi program merupakan kegiatan kehumasan yang untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang pelaksanaan Program ADik Papua. Kegiatan sosialisasi dapat dilaksanakan oleh Pokja ADik Papua, UP4B, Perguruan Tinggi Koordinator dan Perguruan Tinggi Pelaksana. Seluruh materi sosialisasi hanya boleh bersumber dari POB yang telah disyahkan sehingga tidak terjadi kesenjangan informasi walaupun disampaikan oleh institusi berbeda. Informasi dan hal-hal teknis tambahan yang terkait dengan kebijakan setiap institusi dapat pula disampaikan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan yang ada di POB.

Sasaran sosialisasi program terdiri atas;
  1. Para kepala sekolah SMA sederajat di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, 
  2. Para calon mahasiswa peserta ADik Papua
  3. Unsur pemerintah Provinsi dan Kabupataten/Kota se Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
  4. Unsur tokoh masyarakat adat, agama, dan budaya di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
  5. Unsur media massa baik lokal Papua maupun nasional.

Ketentuan Lain

Peserta Program ADik Papua hanya diperuntukkan bagi mereka yang memenuhi persyaratan dan kriteria sebagai Orang Asli Papua (OAP). OAP yang menjadi peserta ADik Papua dapat berasal dari domisili Papua dan Papua Barat maupun yang berdomisili diluar Papua dan Papua Barat yang telah dinyatakan lulus ujian sekolah SMA sederajat yang memenuhi syarat dan lulus Ujian Nasional.

Atas pertimbangan hal tersebut diatas, maka rekruitmen dan seleksi tentang OAP menjadi tanggung jawab bersama unsur terkait di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat antara lain; UP4B, MRP, Pemda Papua dan Papua Barat, Perguruan Tinggi Koordinator. Penetapan keputusan dan rekomendasi OAP ditetapkan oleh Perguruan Tinggi kordinator; Universitas Cendrawasih, Universitas Negeri Papua dan Universitas Musamus. Peserta yang dinyatakan memenuhi kriteria OAP wajib mengikuti seleksi ADik Papua.

Seleksi ADik Papua dimaksudkan untuk memperoleh calon mahasiswa terbaik diantara seluruh peserta seleksi ADik Papua dan menyesuaikan kemampuan akademik peserta dengan program studi yang dipilih. Dalam proses seleksi, selain kemampuan akademik dan psikologi belajar siswa, peserta juga mempertimbangkan faktor non-akademik seperti asal kabupaten, gender, suku, agama, jumlah penduduk dan tingkat kesulitan geografis sehingga terpenuhi unsur keterbukaan dan kesamaan kesempatan serta proporsi partisipasi setiap wilayah dan demografi di Papua dan Papua Barat. Seleksi dilaksanakan oleh Pokja ADik Papua dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) yang beranggotakan seluruh Rektor PTN.


Lebih lengkap.
Pedoman Operasional Baku (POB) Program Afirmasi 2014



Senin, 02 November 2015

Prestasi Mahasiswa Indonesia di tingkat Internasional (Olahraga, Sains dan Seni)

 

Di era mondial saat ini, salah satu indikator penting dari kinerja dari sebuah lembaga atau individu adalah prestasi di kancah Internasional, dalam arti yang sebenarnya. Internasional tidak selalu identik luar negeri,  tetapi harus memenuhi kriteria tertentu.
Demikian pula perguruan tinggi. Sebuah perguruan tinggi akan memiliki reputasi Internasional apabila sebagian besar instrumen penyelenggaraan dan pengelolaan institusi memenuhi atau minimal mendekati standar Internasional khususnya dari aspek sumber daya manusia yaitu dosen dan mahasiswa.
Dosen suatu perguruan tinggi yang memiliki reputasi Internasional baik di bidang riset maupun teaching pasti akan mengangkat reputasi perguruan tingginya. Demikian pula mahasiswanya.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebagai institusi yang bertanggungjawab terhadap pembinaan perguruan tinggi, khususnya dosen dan mahasiswa memberikan wadah seluas-luasnya kepada mereka untuk dapat berprestasi di tingkat Internasional, baik di bidang sains/riset/teaching, olahraga maupun seni.

Khusus untuk mahasiswa, prestasi yang telah ditorehkan oleh mereka di kancah Internasional sampai tahun 2015 ini adalah:

A. ASEAN University Games (AUG) XVII 

1. ASEAN University Games (AUG) XVI

Pesta Olahraga Mahasiswa se-ASEAN (AUG) berlangsung dari tanggal 12 sampai dengan 20 Desember 2012 di Ibukota Laos, Vientiane. Upacara penutupan diselenggarakan di Stadium Utama National Sport Complex, Vientiane Laos yang menyuguhkan pertunjukan dan atraksi budaya dari tuan rumah Laos, dan menghadirkan atraksi budaya dari Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia akan bertindak sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) ASEAN ke-17 yang akan berlangsung di Palembang tahun 2014. 
Ajang POM ASEAN ke -16 ini memperebutkan total 800 medali yang terdiri atas 240 medali emas, 240 medali perak dan 320 medali perunggu yang diikuti oleh Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipi, Singapura, Thailand, Vietnam dan Laos. 
Tim POM Indonesia dengan kekuatan 175 mahasiswa hanya mampu menempati urutan empat klasemen akhir dengan koleksi medali 41 emas, 52 perak dan  61 perunggu. Sedangkan gelar juara umum diraih Malaysia setelah mengoleksi 60 emas, 48 perak, 72 perunggu. Medali terbanyak Tim POM Indonesia disumbang cabang Akuatik (14-17-18) kemudian Pencak Silat (8-6-3) dan Atletik (6-10-8). 

Urutan Perolehan Medali adalah:
  1. Malaysia
  2. Vietnam
  3. Thailand
  4. Indonesia
  5. Lao PDR
  6. Singapore
  7. Philippines
  8. Myanmar
  9. Cambodia
  10. Brunei Darussalam
  11. Timor-Leste

2. ASEAN University Games (AUG) XVII 

Kegiatan AUG XVII diselenggarakan di Palembang pada 10-21 Desember 2014, dibuka oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla dan ditutup oleh Menpora. Dalam event ini Indonesia berhasil menjadi juara umum dengan meraih 64 emas 77 Perak dan 45 perunggu.  Perolehan medali tersebut mengungguli negara pesaing terkuat yaitu Thailand yang memperoleh  52 emas, 34 perak, 23 perunggu, dan Malaysia yang menempati peringkat ke III dengan meraih 38 emas, 39 perak dan 49 perunggu. 


Kontingen Indonesia pada parade pembukaan AUG XVII


Jakabaring: Venues AUG XVII Palembang


Keberhasilan Indonesia kembali menjadi juara umum merupakan perbaikan peringkat dimana pada penyelenggaraan Asean University Games XVI di Vientien Laos dua tahun lalu Indonesia kalah dari Malaysia dan Vietnam. 
Indonesia tercatat telah 11 kali memegang gelar juara umum sejak diselenggarakannya ASEAN University Game (AUG) pertama di Chiang Mai 1981, dan perhelatan kali ini merupakan tuan rumah yang ke 3 bagi Indonesia.

Hasil lengkap perolehan medali adalah sebagai berikut.


Perolehan medali AUG XVII Palembang


B. International Mathematic Championship (IMC)

Salah satu program Dikti tingkat Internasional adalah International Mathematic Championship (IMC) yang diselenggarakan setiap tahun di Bulgaria (American University in Bulgaria). Kejuaraan ini setiap tahun diikuti oleh sekurang-kurangnya 300 mahasiswa yang berasal lebih dari 100 perguruan tinggi seluruh dunia.

Tempat diselenggarakannya IMC

Mahasiswa Indonesia yang dikirim ke ajang ini adalah para Juara Olimpiade MIPA khususnya Matematika yang telah melalui jenjang olimpiade mulai dari tingkat perguruan tinggi, wilayah dan nasional.

Tahun 2010

Adapun prestasi mereka sejak tahun 2010 adalah sebagai berikut.




Peserta IMC Indonesia 2011 diterima di KBRI Sofia

Tahun 2012



Peserta IMC 2013 di KBRI Sofia

Tahun 2014



Tahun 2017


Delegasi Indonesia pada IMC 24 Tahun 2017 Bulgaria
Sebanyak 9 mahasiswa yang berasal dari 7 perguruan tinggi menjadi delegasi Indonesia untuk mengikuti ajang International Mathematics Competition (IMC) ke 24 yang diselenggarakan (31 Juli s.d. 6 Agustus 2017) di di Blagoevgrad, Bulgaria. Mahasiswa yang dikirim adalah mahasiswa-mahasiswa terpilih pada ONMIPA dan telah melalui seleksi lanjut dan pembinaan intensif. IMC diikuti oleh 331 peserta dari sekitar 130 perguruan tinggi (PT) dari negara-negara besar seperti Jerman, Belanda, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Singapura, dan lain-lain. Tahun 2017 ini merupakan tahun ke-16 bagi Indonesia pada ajang ini.

Pada IMC ke-24 Indonesia berhasil meraih satu penghargaan First Prize, dua Second Prize, dua Third Prize, tiga Honourable Mention serta satu Certified. Sebuah capaian terlengkap selama mengikuti ajang ini. Adapun hasil lengkapnya adalah sebagai berikut.
  1. Stephen Sanjaya (Universitas Pelita Harapan), First prize
  2. Jefferson Caesario (Universitas Airlangga), Second prize
  3. Poetri Sonya Tarabunga, (Institut Teknologi Bandung), Second prize
  4. Dewita Sonya Tarabunga (Institut Teknologi Bandung), Third prize
  5. Muhammad Khairul Ramadhan (Universitas Indonesia), Third prize
  6. Antonio Kevin (Universitas Indonesia), Honorable mention
  7. Garry Ariel (Universitas Gadjah Mada), Honorable mention
  8. Yosua Feri Wijaya (Universitas Duponegoro), Honorable mention
  9. Muhammad Faikar Mustafidz Al-Habibi (Universitas Negeri Malang), Certificate

Selamat kepada para mahasiswa dan perguruan tinggi yang telah berhasil kali ini. Semoga dapat menjadi kontribusi bagi peningkatan kualitas dan daya saing Indonesia khususnya kualitas pendidikan Matematika.
Laman International Mathematic Competition (IMC)

C. International Robot Contest

Trinity College International Robot Contest 2015
Prestasi Internasional lainnya diukir oleh mahasiswa 6 Politeknik Negeri Bandung yaitu: 
  1. Dendi Muhawarman,  
  2. Irham Yusra Muhammad,  
  3. Zharfan Ghafara Gunawan, 
  4. Hilmy A. Kaukaby, 
  5. M. Harry Gusyanto, dan 
  6. Candra Diningrat
Mahasiswa ini tergabung dalam Tim Robot Pemadam Api Indonesia 2015 yang telah berhasil  meraih 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu dalam Trinity College International Robot Contest.
Medali Emas kategori robot pemadam api senior berhasil diboyong seluruhnya oleh tim Indonesia. Kompetisi ini dilaksanakan di Hartford Connecticut, USA pada 25 Maret s.d. 4 April 2015 yang diikuti oleh berbagai negara didunia seperti Amerika Serikat, Israel, China, dan lain-lain.
Tim berhasil membawa nama harum bangsa Indonesia dan Politeknik Negeri Bandung dengan memperoleh 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu.

Tim Robot Pemadam Api "Pasundan" Polban Bandung

Mahasiswa Polban ini merupakan pemenang dari kompetisi robot nasional tahun 2014 pada kategori pemadam api beroda dan berkaki. Selama kompetisi ini, pada kategori Firefighting Senior Division-Unique prestasi yang berhasil diraih adalah medali emas dan medali perak. Sedangkan pada kategori Firefighting Walking Division prestasi yang berhasil diraih adalah medali emas dan medali perunggu.

Trinity College International Robot Contest 2016
Tahun 2016, Kemristekdikti mengirimkan 2 Perguruan Tinggi ke Trinity International Robot Contest, yaitu Unisula dan Universitas Sriwijaya. Setelah perjuangan panjang, tim Robotic Unissula akhirnya berhasil menjuarai Kontes Robot Pemadam Api yang diselenggarakan pada 2-3 April 2016. Tim Robotic Unissula mengirimkan 4 robot yang diantaranya dua robot beroda untuk berkompetisi di kategori Senior Unique dan dua robot berkaki untuk kategori Walking. Adapun Unsri masih harus bersabar karena belum berhasil memenangi kontes.

Unisula dan Unsri Mewakili Indonesia Robot Contest TRinity 2016

Universitas Sultang Agung Semarang yang diwakili La ode Muh Idris, Faizal Aminudin Aziz dan Ahmad Zuhri, berhasil menjadi Juara di berbagai kategori, yaitu:
  1. Juara 1 Khaum 1 kategori Senior Unique
  2. Juara 2 Khaum 2 kategori Senior Unique
  3. Juara 1 Sultan Agung 1 Kategori Walking
  4. Juara 2 Sultan Agung 2 Kategori Walking


La Ode, Faizal dan Zuhri Mahasiswa Unisula
Berita ada disini, dan hasil lengkap dapat dilihat disini

D. RoboBoat/Kompetisi Kapal Cepat Tak Berawak (KKCTBI) 2015

Tim robotika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Penship meraih prestasi "Compact Design Award" dalam "RoboBoat" di Virginia, Amerika Serikat yang diikuti 15 negara pada 6-12 Juli 2015. Mereka berlima yaitu Irwan Privasa Baraputra, Ahmad Zurkoni, Rachmat Faizal Ajie, M. Ardhy Windhy Saputra, dan M. Sholahuddin Al-Ayyubi.

Tim PENShip ITS 2015
Sedangkan tim robotika lainnya yakni Eros meraih prestasi RunnerUp kedua dalam "RoboCup" di Hefei, Tiongkok, pada 14-23 Juli 2015 yang diikuti 16 tim dari 24 negara.

E. World University Debating Championship (WUDC) 2015

Para Juara NUDC 2015 sesuai dengan kebijakan Belmawa, dikirimkan ke ajang debat dunia WUDC pada tanggal 27 Desember 2015 s.d. 3 Januari 2016 yang tahun ini dilaksanakan di Thessaloniki Yunani.

World University Debating Championship (WUDC) merupakan lomba debat tingkat dunia yang dilaksanakan sekali setahun sejak tahun 1981. Lomba menggunakan format British Parliamentary dan diikuti oleh sekitar 400 tim dari universitas-universitas di seluruh dunia.

Delegasi Indonesia yang berangkat adalah para Juara NUDC 2015 yaitu:

Predikat
Mahasiswa
Perguruan Tinggi
Champion
Alif Satria
Universitas Gadjah Mada
Champion
Romario Hasintongan
Universitas Gadjah Mada
1st Runner Up
Anggi Ariskhan
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
1st Runner Up
Kario Teguh Chandra
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
2nd Runner Up
Terry Muthahhari
Universitas Indonesia
2nd Runner Up
Magreta Kailla Adenta
Universitas Indonesia
3rd Runner Up
Nadya Ayuning Wuryanto
Universitas Brawijaya
3rd Runner Up
Haris Apriyanto
Universitas Brawijaya


Delegasi Indonesia pada WUDC Thessaloniki 2016

Adapun hasilnya adalah:
  1. Tim Universitas Brawijaya sebagai RunnerUp English as a Foreign Language (ESL).
  2. Tim Universitas Indonesia sebagai RunnerUp English as a Second Language (ESL).
  3. Tim Universitas Gadjah Mada masuk semi final

 E. Mobil Hemat Energi

Sekali lagi pada tahun 2016 ini mahasiswa Indonesia menorehkan prestasi luar biasa di tingkat dunia. Setelah mahasiswa Universitas Sultang Agung Semarang, La ode Muh Idris, Faizal Aminudin Aziz dan Ahmad Zuhri, berhasil menjadi Juara Umum di Trinity College International Robot Contest 2016 bulan April lalu, kini kembali mahasiswa Indonesia mengukir sejarah dengan menjadi juara pertama Drivers' World Championship for UrbanConcept Cars di London awal 3 Juni ini.

Tim Mahasiswa Indonesia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung berhasil meraih juara dalam ajang balap mobil hemat energi, Shell Eco Marathon Drivers World Championship di London.

Mereka adalah Ramdani dan 7 mahasiswa lainnya, serta 2 pembimbing yang tergabung dalam Tim Bumi Siliwangi. Ramdani sang Juara start dari posisi kedua di belakang tim Perancis dari delapan tim yang turun dalam final lomba balap mobil Urban Concept di Olympic Park, London.

Sebagai bentuk hadiah lomba mereka akan diundang untuk menghabiskan waktu sepekan bersama Scuderia Ferrari di Maranello, Italia. Mereka akan bertemu dengan tim Ferrari dan menerima pelatihan pribadi serta nasihat dari para teknisi mengenai cara untuk meningkatkan performa kendaraan mereka pada Shell Eco-marathon 2017.
Tim Bumi Siliwangi. www.shell.com
Tim Bumi Siliwangi UPI
Kemenangan ini mengobati kekecewaan dan duka yang dalam Tim mahasiswa Indonesia yang lain, Tim Sapuangin ITS, yang gagal mengikuti kategori lainnya karena musibah kebakaran mobilnya dalam pengangkutan dan Tim Sadewa Universitas Indonesia yang gagal menjadi juara.
Pada waktu yang sama sebenarnya mahasiswa Indonesia yang lain, juga sedang bertanding dalam Robocup Contest di Leipzig Jerman. Sayangnya Tim yang diwakili oleh Polteknik Elektronika Negeri Surabaya mengikuti kategori RoboSoccer harus berhenti di babak perempat final.

Tim Robot PENS. www.pens.ac.id
Tim Robot Soccer EROS PENS di Leipzig Jerman

Melihat prestasi mahasiswa Indonesia yang membanggakan di berbagai jenis kompetisi tingkat dunia sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia memiliki SDM/mahasiswa dan inovasi unggul. Prestasi yang ditoreh adik-adik mahasiswa ini ada di semua kompetisi. DI bidang matematik , mahasiswa Indonesia tingkat dunia (International Mathematic Competition) telah beberapa kali menyabet Gold dan Silver. Di bidang Sosial Humaniora, mahasiswa Indonesia pernah menjadi Champion dalam World University Debating Championship (WUDC), World Court Forum. Di bidang seni, mahasiswa Indonesia hampir setiap tahun berhasil meraih Gold atau Silver di berbagai paduan suara mahasiswa.

Begitu pula di bidang olahraga. Pada ajang Asean University Games yang diselenggarakan di Palembang, mahasiswa Indonesia menjadi Juara Umum. Hanya memang belum banyak berperan di tingkat dunia (Universiade).

Entri yang Diunggulkan

Perubahan Mendasar Kebijakan Bidang Kemahasiswaan

Semua kalangan pendidikan tinggi pasti tahu apa itu kampus merdeka dan merdeka belajar; salah satu episode kebijakan Mas Menteri Dikbud. Te...